Jelaskanapa itu keberagaman. Question from @Hanif1111111111 - Sekolah Menengah Pertama - Ppkn. Analisis , bagaimana pendapatmu tentang adanya evolusi manusia Answer. Hanif1111111111 February 2019 | 0 Replies . Ceritakan bagaimana awal mula manusia prasejarah menemukan api
SoalPKN Kelas 1 SD Bab Hidup Rukun Dan Kunci Jawaban. A. BERILAH TANDA SILANG (X) PADA HURUF A, B, C, ATAU D PADA JAWABAN YANG BENAR! 1. manusia itu terdiri dari laki-laki dan . 2. ayah adalah seorang . 3. sesama teman kita harus hidup dengan . 4. orang yang melahirkan kita disebut .
Contoh tentang cerita Ramayana, Mahabarata, kisah para Rasul Allah, dan lain-lain. 4. Dimensi doktrinal dan filosofi, yaitu menunjuk tentang pemahaman akan Tuhan berdasarkan pengalaman-pengalaman religius orang-orang beragama yang dirumuskan atau dijelaskan di dalam ajaran-ajaran, doktrin-doktrin ataupun dogma-dogma agama.
AjaranGereja tentang Kontrasepsi di Jaman Modern Paroki HKY Tegal. 3:53 AM Keluarga. Telah diuraikan dalam Buletin Perdhaki edisi yang lalu, bahwa pada zaman Gereja awal telah dikenal kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Mis
DefinisiUmum. Pengertian agama secara umum dan khusus berupa tata cara atau aturan-aturan. Agama mengatur tata cara peribadahan manusia terhadap Tuhan YME, pula hubungan antarmanusia, tak terkecuali dengan lingkungan, sebagai bagian dari makhluk-makhluk yang diciptakan Tuhan. Agama adalah kepercayaan dalam wujud penyembahan terhadap kekuatan
JawabanTentang Bagaimana dayu menggunakan batang logam 1 untuk mencari tahu jika batang logam 2 adalah magnet; Jawaban Pertanyaan berapa malaikat yang selalu mendoakan kita dalam melaksanakan ibadah bersedekah Jawaban Tentang Perkembangan teknologi komputer memberikan kemudahan pada berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan i
Menganalisisajaran Kitab Suci tentang keberagaman manusia menurut Yoh 4: 1-42. 4. Menganalisis ajaran Gereja tentang keberagaman manusia berdasarkan Nostra Aetate art.5 dan Gaudim et Spes art.24. Ensiklopedi Gereja. Cipta Loka Caraka: Jakarta. 3. Alex Lanur. 1995. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka. Kanisius: Yogyakarta. 4. Dr. P. Hardono
cBQRH. Indonesia memiliki beragam suku, budaya, dan kepercayaan. Ada 6 agama di Indonesia yang perlu kamu ketahui. Yuk, simak penjelasan tentang sejarah, kitab suci, hari besar, dan tempat ibadahnya. — Ada enam agama yang diakui oleh pemerintah di Indonesia, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Keenam agama ini diatur dalam TAP MPR Nomor 1 Tahun 1965 dan UU Nomor 5 Tahun 1969. Saat ini, Islam menjadi agama mayoritas penduduk di Indonesia dengan jumlah penganutnya sekitar 87,2 persen. Sementara itu, agama Kristen memiliki pengikut sekitar 6,9 persen, Katolik sekitar 2,9 persen, Hindu sekitar 1,7 persen, Budha sekitar 0,7 persen, dan Konghucu sekitar 0,05 persen. Tahukah kamu arti “Bhinneka Tunggal Ika” yang jadi semboyan bangsa kita? Betul sekali, arti semboyan tersebut adalah berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Tentu kamu juga setuju bahwa “Bhinneka Tunggal Ika” sangat merepresentasikan keadaan Indonesia. Bahkan, frasa tersebut juga tertulis di pita yang digenggam burung Garuda Pancasila, lambang negara kita. Tetapi, mengapa ada semboyan tersebut? Yuk, baca ulasan ini! Bhinneka Tunggal Ika mewakili keadaan bangsa Indonesia yang terdiri atas beragam kebudayaan dan perbedaan, salah satunya sistem kepercayaan dan agama. Memangnya, ada berapa sih agama yang dianut di Indonesia? Lalu, mengapa kok bisa ada beragam agama di Indonesia? Dengan adanya banyak agama ini, pemerintah pun memberikan hak kepada warga negaranya untuk memilih sendiri agama yang ingin dianut secara merdeka. Lebih lanjut, kemerdekaan memilih agama dan sistem kepercayaan ini diatur dalam UUD NRI 1945 Pasal 28 ayat 1 dan 2. Adanya aturan ini memberikan makna bahwa setiap manusia bebas memilih dan melaksanakan ajaran agama menurut keyakinan dan kepercayaannya. Dengan kata lain, tidak boleh ada unsur pemaksaan dalam memilih agama yang diinginkan. Baca Juga Karakteristik Negara Maju dan Berkembang Macam-Macam Agama di Indonesia Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya ya, ada 6 agama di Indonesia yang diakui oleh pemerintah. Yuk, simak penjelasan lengkapnya satu per satu. 1. Islam Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 atau 8 melalui para pedagang dari Arab dan Persia. Islam terus berkembang hingga kini menjadi kepercayaan yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Kitab suci Al-Quran Nama Nabi Nabi Muhammad SAW Hari Besar Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriah, Isra’ Mi’raj Tempat Ibadah Masjid 2. Katolik Agama Katolik pertama kali muncul di kepulauan Maluku. Agama ini dibawa oleh bangsa Portugis ke Indonesia, yang saat itu datang untuk mencari rempah-rempah. Rakyat Maluku pun menjadi penganut pertama dari agama Katolik di Indonesia. Kitab Suci Alkitab Nama Pembawa Yesus Kristus Hari Besar Natal, Jumat Agung, Kenaikan Isa Almasih, Paskah Tempat Ibadah Gereja 3. Kristen Protestan Agama Kristen Protestan muncul pertama kali di Belanda pada abad ke-16 yang dipengaruhi oleh ajaran Calvinisme dan Lutheran. Kristen Protestan pun masuk ke Indonesia bersama para penjajah dalam misi Gospel. Kitab Suci Alkitab Nama Pembawa Yesus Kristus Hari Besar Natal, Jumat Agung, Kenaikan Isa Almasih, Paskah Tempat Ibadah Gereja 4. Hindu Hindu pertama masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Bangsa Cina dan India membawa agama Hindu diperkirakan pada awal abad keempat, ditandai dengan berdirinya kerajaan Kutai dan Tarumanegara. Hindu menjadi salah satu agama tertua di Indonesia. Kitab Suci Weda Nama Pembawa – Hari Besar Nyepi, Saraswati, Pagerwesi Tempat Ibadah Pura 5. Budha Sama seperti Hindu, Budha pun agama tertua di Indonesia. Agama Budha masuk pada abad kelima masehi, terlihat dari peninggalan prasasti yang ditemukan. Diperkirakan, Budha dibawa oleh pengelana Fa Hsien yang berasal dari China. Agama ini pun berkembang dengan banyaknya kerajaan Budha, seperti Sriwijaya. Bahkan, Sriwijaya menjadi pusat pengembangan agama Budha di Asia Tenggara hingga tahun 1377. Kitab Suci Tripitaka Nama Pembawa Sidharta Gautama Hari Besar Waisak, Asadha, Kathina Tempat Ibadah Vihara 6. Konghucu Agama Konghucu berasal dari ajaran Konfusius atau Konfusianisme. Agama ini pertama kali muncul di Indonesia pada abad ke-17. Salah satu buktinya adalah terdapat bangunan tua di Pontianak yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi para penganut agama Konghucu. Kitab Suci Si Shu dan Wu Ching Nama Pembawa Kong Hu Cu Hari Besar Imlek, Cap Go Meh Tempat Ibadah Li Tang/ Klenteng Mengapa Ada Beragam Agama di Indonesia? Pernahkah kamu berpikir mengapa Indonesia memiliki banyak sistem kepercayaan dan agama? Apa yang menyebabkan ada enam agama yang ada di Indonesia? Mengapa tidak hanya satu agama saja yang boleh dianut di Indonesia? Ternyata, semua itu ada jawabannya, lho, teman-teman! Berikut penjelasan penyebab keberagam agama di Indonesia. Secara geografis, Indonesia memiliki letak yang sangat strategis. Bangsa kita terletak di antara dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Selain itu, ada dua benua yang mengapit Indonesia, antara lain Benua Asia dan Benua Australia. Posisi ini menjadikan Indonesia di jalur perdagangan dunia, sehingga banyak pedagang dari bangsa lain datang ke Indonesia. Hal ini memungkinkan terjadinya penyebaran agama di Indonesia. Baca Juga Letak Geografis dan Astronomis Indonesia serta Pengaruhnya Selain itu, sejarah mencatat Indonesia pernah dijajah oleh bangsa Eropa. Dengan kekayaan alam yang dimiliki, bangsa Eropa datang ke Indonesia mencari rempah-rempah. Namun ternyata, mereka tak semerta-merta mengambil kekayaan Indonesia, melainkan memiliki misi sendiri dengan sebutan 3G Gold, Glory, dan Gospel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, Gospel berarti nyanyian atau lagu gerejawi. Misi Gospel para penjajah adalah untuk menyebarkan agama. Namun, kunci penting banyaknya agama ini ternyata ada di sifat terbuka bangsa Indonesia. Menurut artikel yang dipublikasikan Okezone dengan judul “Inilah Faktor Penyebab Keragaman Agama di Indonesia”, bangsa Indonesia memiliki sikap terbuka terhadap hal-hal baru. Tanpa sikap keterbukaan ini, akan sulit menghadirkan keberagaman agama di Indonesia. Penyebaran agama dan penerimaan terhadap keberagaman agama pun mustahil bisa dilakukan. — Sekarang kamu sudah paham kan beragam agama di Indonesia? Yuk, kita hormati orang-orang di sekitar kita yang memiliki agama berbeda dengan sikap toleransi. Dengan sikap toleransi ini, maka keindahan akan tercipta. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” pun semakin kuat pada bangsa Indonesia. Selain agama, Indonesia juga memiliki keanekaragaman lain lho, teman-teman! Yuk, baca keberagaman Indonesia di ruangbelajar tumbuhkan rasa toleransi dan menghargai atas perbedaan! Referensi Inilah Faktor Penyebab Keanekaragaman Agama di Indonesia [daring]. Tautan Inilah Faktor Penyebab Keragaman Agama di Indonesia Okezone Edukasi diakses pada 16 Februari 2022 6 Agama di Indonesia serta Kitab Suci dan Hari Besarnya [daring]. Tautan 6 Agama Di Indonesia Serta Kitab Suci Dan Hari Besarnya – Gramedia Literasi diakses pada 16 Februari 2022 Arti Gold, Glory, Gospel 3G Sejarah, Latar Belakang, & Tujuan [daring]. Tautan Arti Gold, Glory, Gospel 3G Sejarah, Latar Belakang, & Tujuan diakses pada 16 Februari 2022 Bagaimana Tionghoa dan Khonghucu di Mata Indonesia? [daring]. Tautan Bagaimana Tionghoa dan Khonghucu di Mata Indonesia? diakses 16 Februari 2022 Masuknya Kristen di Indonesia [daring] Tautan Masuknya Kristen di Indonesia – Historia diakses pada 16 Februari 2022 Sumber foto 6 Agama Di Indonesia Serta Kitab Suci Dan Hari Besarnya – Gramedia Literasi
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti 97 orang. 4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. 5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. 6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. 7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. 8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. 9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Kitab Suci Perjanjian Baru Matius 59, 21 - 25 9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 21 Kamu telah mendengar yang diirmankan kepada nenek moyang kita Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya Kair harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata Jahil harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 98 Kelas XII SMASMK Semester 1 Roma 51-21 1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati 8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. 9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah- Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya 11 Dan bukan hanya itu saja Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu. 12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. 13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. 14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. 15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. 16 Dan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti 99 kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. 17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. 19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. 20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, 21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 3 Pendalaman Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini. a Apa pesan perdamaian yang diwartakan dalam teks Kitab Suci Perjanjian Lama Yesaya 111-9? b Apa pesan perdamaian yang diwartakan dalam teks-teks Kitab Suci Perjanjian Baru Matius 59, 21-25, Roma 51-21? b. Ajaran Gereja tentang Perdamaian dan Persatuan 1 Simaklah Ajaran Gereja berikut ini. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang- orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya”. GS 1 100 Kelas XII SMASMK Semester 1 “Damai tidak melulu berarti tidak ada perang, tidak pula dapat diartikan sekedar menjaga keseimbangan saja kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Damai juga tidak terwujud akibat kekuasaan diktatorial. Melainkan dengan tepat dan cermat disebut “hasil karya keadilan” Yes 3217. Damai merupakan buah hasil tata tertib, yang oleh Sang Pencipta ilahi ditanamkan dalam masyarakat manusia, dan harus diwujudkan secara nyata oleh mereka yang haus akan keadilan yang makin sempurna. Sebab kesejahteraan umum bangsa manusia dalam kenyataan yang paling mendasar berada di bawah hukum yang kekal. Tetapi mengenai tuntutannya yang konkrit perdamaian tergantung dari perubahan-perubahan yang silih berganti di sepanjang masa. Maka tidak pernah tercapai sekali untuk seterusnya, melainkan harus terus menerus dibangun. Kecuali itu, karena kehendak manusia mudah goncang, terlukai oleh dosa, usaha menciptakan perdamaian menuntut, supaya setiap orang tiada hentinya mengendalikan nafsu-nafsunya, dan memerlukan kewaspadaan pihak penguasa yang berwenang. Akan tetapi itu tidak cukup. Perdamaian itu di dunia tidak dapat di capai, kalau kesejahteraan pribadi-pribadi tidak di jamin, atau orang-orang tidak penuh kepercayaan dan dengan rela hati saling berbagi kekayaan jiwa maupun daya cipta mereka. Kehendak yang kuat untuk menghormati sesama dan bangsa-bangsa lain serta martabat mereka begitu pula kesungguhan menghayati persaudaraan secara nyata mutlak untuk mewujudkan perdamaian. Demikianlah perdamaian merupakan buah cinta kasih juga, yang masih melampaui apa yang dapat di capai melalui keadilan. Damai di dunia ini, lahir dari cinta kasih terhadap sesama, merupakan cermin dan buah damai Kristus, yang berasal dari Allah Bapa. Sebab Putera sendiri yang menjelma, Pangeran damai, melalui salib-Nya telah mendamaikan semua orang dengan Allah. Sambil mengembalikan kesatuan semua orang dalam satu bangsa dan satu Tubuh, Ia telah membunuh kebencian dalam Daging- Nya sendiri, dan sesudah di muliakan dalam kebangkitan-Nya Ia telah mencurahkan Roh cinta kasih ke dalam hati orang-orang. Oleh karena itu segenap umat kristen dipanggil. Dengan mendesak, supaya “sambil melaksanakan kebenaran dalam cinta kasih” Ef 415, menggabungkan diri dengan mereka yang sungguh cinta damai, untuk memohon dan mewujudkan perdamaian. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti 101 Digerakkan oleh semangat itu juga, kami merasa wajib memuji mereka, yang dapat memperjuangkan hak-hak manusia menolak untuk menggunakan kekerasan, dan menempuh upaya-upaya pembelaan, yang tersedia pula bagi mereka yang tergolong lemah, asal itu dapat terlaksana tanpa melanggar hak-hak serta kewajiban-kewajiban sesama maupun masyarakat. Karena manusia itu pendosa, maka selalu terancam, dan hingga kedatangan Kristus tetap akan terancam bahaya perang. Tetapi sejauh orang-orang terhimpun oleh cinta kasih mengalahkan dosa, juga tindakan-tindakan kekerasan akan diatasi, hingga terpenuhilah Sabda “Mereka akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” Yes 24. 2 Pendalaman Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini. a Apa pesan dari Ajaran Gereja Katolik yang termuat dalam Gaudium et Spes artikel 1 dan artikel 78? b Apa upaya kita untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan sesuai ajaran gereja? c Apa penilaianmu terhadap peran Gereja Katolik di Indonesia dalam rangka menciptakan perdamaian dan kesatuan bangsa? 3. Upaya Gereja Katolik untuk Membangun Perdamian dan Persatuan Bangsa Indonesia. a. Mengamati peran Gereja Katolik dalam upaya menciptakan perdamaian dan persatuan. 1 Menelusuri peran Gereja Katolik Indonesia Gereja Katolik Indonesia sepanjang sejarah keberadaannya ikut berperan aktif dalam membangun perdamaian dan persatuan masyarakat di negara yang kita cintai ini. Para Bapak Uskup sebagai pimpinan Gereja lokal partikular, beserta perangkat keuskupan dan umatnya, berjuang bersama sesama warga masyarakat lainnya untuk menciptakan perdamaian dan persatuan. Cobalah engkau temukan upaya apa saja yang sudah di lakukan Gereja Katolik di keuskupanmu pada khususnya, dan Gereja Katolik di Indonesia pada umumnya untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan bangsa. 102 Kelas XII SMASMK Semester 1 2 Menyimak kisah dari Keuskupan Ambon a Simaklah artikel berikut ini. Uskup Amboina Berpekiklah, Maluku Sudah Damai Sekarang AMBON, - Uskup Diosis Amboina, Mgr PC. Mandagi, menyerukan orang Maluku harus memanfaatkan perayaan Hari Perdamaian Dunia untuk memekikkan bahwa daerah Maluku benar-benar sudah damai. “Momentum strategis untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Maluku sudah damai dan bertekad memelihara kedamaian abadi sehingga tidak terjadi konlik komunal sebagaimana pada 19 Januari 1999,” katanya, di Ambon, Rabu. Pekik kedamaian itu, katanya, seharusnya juga direalisasikan dengan menerapkan rasa keadilan dalam berbagai sektor kehidupan. ”Jangan damai hanya di bibir, diucapkan, atau disosialisasikan, tapi realisasinya hanya sesaat atau demi kepentingan tertentu sehingga mubazir kembali,” katanya. Oleh karena itu, orang Maluku harus bangga karena kota Ambon dipercaya sebagai tuan rumah perayaan Hari Perdamaian Dunia dengan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Rasanya damai di hati dan di bumi Maluku terealisasi bila kita hidup dalam bingkai budaya ’pela dan gandong’ sebagai warisan leluhur yang menjunjung tinggi jalinan kehidupan antarumat beragama,” ujarnya. Dia juga menyerukan orang Maluku agar siap memerangi warga sendiri yang sering bertindak sebagai provokator untuk memperkeruh stabilitas keamanan hanya karena tergiur uang atau kepentingan kekuasaan sesaat. “Saya mengindikasikan ada juga oknum pemimpin agama, elite pejabat, elite politik, elite TNIPolri, dan elite pemuda yang sering melakukan tindakan tidak terpuji yang memperkeruh stabilitas keamanan,” katanya. Ia mengajak semua komponen bangsa di Maluku agar bangga karena dipercaya untuk pertama kalinya di Indonesia sebagai tuan rumah perayaan Hari Perdamaian Dunia. “Disemangati budaya hidup sebagai orang basudara ternyata mampu berdamai dengan cepat Sumber Diakses pada tanggal 16 Juni 2014 Gambar Mgr. Mandagi
Paus Yohanes Paulus II menuliskan dalam Centesimus Annus, “…pokok pembahasan dan, dalam arti tertentu, prinsip pemandu ensiklik Paus Leo dan seluruh ajaran sosial Gereja adalah pandangan tentang pribadi manusia dan nilai unik pribadi….” CA art. 11. Lebih jauh, paus mengatakan, “Satu-satunya tujuan Gereja adalah memelihara dan bertanggung jawab atas pribadi manusia yang telah dipercayakan Kristus kepadanya…. Kita tidak berhadapan dengan kemanusiaan yang abstrak’, melainkan dengan pribadi nyata, konkret’, historis’. Kita berhadapan dengan setiap individu, karena setiap orang adalah bagian dari misteri Penebusan, dan melalui misteri ini Kristus menyatukan diriNya dengan setiap orang selamanya. Karena itu, Gereja tidak dapat mengabaikan kemanusiaan, dan bahwa pribadi manusia ini adalah langkah utama yang harus ditapaki Gereja dalam melaksanakan misinya…langkah yang telah dijejaki oleh Kristus sendiri, satu-satunya jalan menuju misteri Inkarnasi dan Penebusan.’ Inilah satu-satunya prinsip yang menginspirasi ajaran sosial Gereja.” CA art. 53. Kutipan panjang di atas menunjukkan tanggung jawab dan sekaligus sasaran misi Gereja, yaitu manusia. Dasarnya adalah misi keselamatan Kristus di dunia, yang ditujukan kepada seluruh manusia. Manusia menjadi target utama dan satu-satunya misi Kristus. Gereja, sebagai kelanjutan misi penebusan Kristus, sepenuhnya sadar akan hal ini. Melaksanakan misi keselamatan Kristus tidak lain berarti bekerja bagi manusia. Fokus utama ajaran sosial Gereja adalah pribadi manusia yang konkret dan historis. Artinya, manusia dengan segala aspek dan dinamika kehidupannya. Centesimus Annus menjelaskannya dengan “pribadi manusia sebagaimana ia terlibat dalam jaringan kompleks relasi dalam dunia modern” CA art. 54. Kepada manusia ini Gereja bukan hanya mewartakan keselamatan dan penebusan Kristus, tetapi juga memberikan tawaran bagaimana ia harus menjalani kehidupan dalam relasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Tidak mengherankan bila gagasan tentang manusia memiliki peranan dan posisi sentral dalam keseluruhan ajaran sosial Gereja. Pendasaran ajaran sosial Gereja pada manusia didasari oleh martabat yang erat melekat pada pribadi manusia. Gagasan tentang martabat manusia bersumber pada keyakinan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan kesamaan dengan Allah bdk. Kej 127. Dengan menjadi citra Allah, manusia bukan sekedar ciptaan seperti ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Ia menjadi pusat dan puncak ciptaan Allah. Kitab Kejadian bahkan menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai tuan atas segala ciptaan lain. Pribadi manusia merupakan cerminan paling gamblang dari Allah yang hadir di tengah-tengah kita. Karena itu, hidup manusia dipandang suci dan martabat pribadi manusia adalah starting point bagi visi moral sebuah masyarakat. Fakta bahwa setiap orang adalah citra Allah memiliki beberapa konsekuensi penting. Pertama, setiap orang memiliki martabat yang sama, yang mengalir dari kecitraannya dengan Allah. Martabat manusia sama sekali bukanlah hasil kerja, usaha, dan prestasinya sendiri. Martabat itu semata-mata merupakan anugerah Allah. Maka, selama ia adalah manusia yang diciptakan oleh Allah dan karenanya secitra dengan Allah, ia punya martabat, derajat, dan hak yang sama dengan manusia lain bdk. Compendium art. 111. Segala perbedaan manusia karena warna kulit, bahasa, agama, kelompok, pangkat, posisi, identitas, dan sebagainya runtuh dan tidak bisa menjadi kriteria utama dalam menentukan bagaimana harus bersikap terhadap orang lain. Konsekuensi kedua, karena secitra dengan Allah, maka pribadi manusia jauh lebih penting daripada benda dan ciptaan lain bdk. Compendium art. 133. Karena itu, manusia tidak pernah bisa dan tidak boleh diperlakukan sebagai sarana atau alat. Justru karena sederajat dalam martabat dan hak, tidak ada manusia yang berhak memperalat manusia lain. Setiap tindakan memperalat manusia demi kepentingan manusia lain otomatis berarti merendahkan martabat manusia. Namun, tidak hanya berhenti di situ. Karena manusia adalah citra Allah dan ciptaanNya yang paling sempurna, tindakan tersebut juga bermakna merendahkan Allah sendiri. Secara positif, hal itu dapat dirumuskan sebagai “manusia adalah tujuan”. Konsekuensi berikutnya adalah manusia memiliki dimensi sosial. Manusia tidak diciptakan seorang diri. Karena itu, pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial yang secara erat tergantung kepada orang lain. “Rukun hidup manusia merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya.” GS art. 12. Dimensi sosial manusia bukanlah faktor tambahan. Dimensi tersebut melekat erat dalam dirinya. Bahkan dokumen konsili di atas menyebutnya sebagai bagian dari “kodrat yang terdalam manusia”. Hal ini menggarisbawahi sifat ketergantungan manusia terhadap sesamanya. Ketergantungan ini bukan hanya menyangkut soal hidup. Bahkan kemampuan manusia untuk maju dan berkembang tergantung pada orang lain bdk. GS art. 25. Agar berkembang secara layak, manusia memiliki kecenderungan alami akan ikatan sosial seperti masyarakat, negara, maupun ikatan sosial privat seperti serikat buruh, dsb. Dimensi sosial ini secara teguh melandasi paham ajaran sosial Gereja tentang kesejahteraan umum dan solidaritas. Seluruh pandangan, ajaran, dan sikap Gereja tentang manusia dan kehidupan didasari oleh prinsip martabat manusia ini, yaitu bahwa manusia adalah citra Allah. Dokumen-dokumen sosial dari para paus berangkat dari prinsip ini. Begitu pula, respon Gereja terhadap persoalan-persoalan ketidakadilan dan masalah-masalah di tengah masyarakat didasari oleh keyakinan akan pribadi manusia sebagai cerminan Allah sendiri. Manusia adalah citra Allah, karena itu memiliki hak dan martabat sederajat serta harus menjadi tujuan dari setiap kebijakan dan program pembangunan. Referensi “Gaudium et Spes Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern” dalam Dokpen KWI. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta Obor 1993. Paulus II, Yohanes 1991. Centesimus Annus. Pontifical Council for Justice and Peace 2004. Compendium of the Social Doctrine of the Church. _______ 2001. The Social Agenda a Collection of Magisterial Texts.
jelaskan ajaran gereja tentang keberagaman manusia