Beritabangsamerupakan portal online yang mengusung semangat Always be Trusted. Oleh karena itu kami ingin selalu memberi kepercayaan kepada publik Jawa Timur untuk bekerjasama dan berkolaborasi seluas-luasnya.
Dumadiartinya lahir atau menjadi ada. Sebelum lahir, sebelum bernama, atau sebelum ada seperti ini, itulah sang asal. Sangkan paraning dumadi umumnya dipahami sebagai asal dan tujuan hidup. Ada yang Menyebutnya Tuhan sesuai dengan pemahaman atau agama pada umumnya. Sangkan paraning dumadi adalah kembali pada diri sejati atau rumah sejati.
Manusiasering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan
SelainSunan Kalijaga, terdapat pula tokoh Islam Kejawen yang kontroversial, yakni Syekh Siti Jenar. ajaranya mengenai ilmu kesempurnaan yang diwariskan secara turun temurun. Harapannya adalah tiap manusia memahami sangkan paraning dumadi atau cara manusia bersikap dalam menjalani kehidupan. Editor : M Nur Habib. Reporter: Masning Salamah
tigakonsep utama ajaran Sunan Kalijaga, yaitu memperindah alam dan kehidupan atau memayu hayuning bawono, dari mana manusia berasal dan akan berakhir atau sangkan paraning dumadi, dan yang terakhir
Konsep Sangkan Paraning Dumadi dalam Kidung Kawedar Sunan Kalijaga Dalam konsep tauhid Islam khas orang Jawa dikenal istilah sangkan paraning dumadi. Konsep ini berkaitan dengan kesatuan asal dan tujuan dari penciptaan manusia dan alam semesta yang hulu dan muaranya adalah Tuhan.
Tidakada komentar: Fri, 19.. . kita berada di akhir hayat. Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika . Desember 19, 2012 10:17 pm. pak bodong, pak riko di.. Sangkan Paraning Dumadi (Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia) - Free download as Word Doc (.doc), PDF File (.pdf), Text File (.txt) or read online for free. .
jHSl. Jakarta, NU OnlneDalam konsep tauhid Islam khas orang Jawa dikenal istilah sangkan paraning dumadi. Konsep ini berkaitan dengan kesatuan asal dan tujuan dari penciptaan manusia dan alam semesta yang hulu dan muaranya adalah Tuhan.“Sangkan paraning dumadi menjelaskan bahwa semuanya berasal dari adi kodrati yaitu Tuhan,” kata Ki Teguh Slamet Wahyudi pada Gema Ramadhan Ngaji Suluk-suluk Sunan Kalijaga, di Sanggar Suluk Nusantara, Perumahan Depok Mulya 1, Depok, Jawa Barat, Sabtu 26/5.Ia menganalogikan, masyarakat Indonesia pada akhir Ramadhan banyak yang melakukan mudik atau pulang kampung. Hal itu dilakukan karena di kampung halaman mereka memiliki sanak saudara dan orang tua yang ingin dikunjungi. Pemudik bersilaturahim kepada yang masih hidup, dan berziarah kepada yang telah meninggal dunia. “Pulang kampung menjadi aktivitas setiap tahun, sebuah ilustrasi yang pada akhirnya kita akan pulang ke asal kita, yaitu Tuhan,” lanjut doktor pada bidang Matematika pemahaman orang Jawa, sangkan paran dumadi terkait dengan tiga hal, yakni asal alam semesta, tujuan manusia, dan pencipatan manusia. Ketiganya tergambar pada Serat Kawedar karangan Sunan Kalijaga, meski tidak secara ekspilisit dan tidak terlalu banyak tujuan hidup itu bait sepuluh disebutkan Ana kidung rekeki Hartati/sapa weruh reke araning wang/duk ingsun ana ing ngare/miwah duk aneng gunung/ki Samurta lan Ki Samurti/ngalih aran ping tiga/arta daya engsun/araning duk jejaka/Ki Hartati mengko ariningsun ngalih/sapa wruh araning wang// Ada kidung bernama Hartati/siapa yang tahu itu adalah namaku/tatkala aku masih tinggal di ngarai/dan ketika tinggal di gunung/Ki Samurta dan Ki Samurti/berganti nama tiga kali/aku adalah arta daya/namaku tatkala masih perjaka/kelak namaku berganti Ki Hartati/Siapa yang tahu sepuluh di atas dimaknai sebagai ilustrasi hubungan Tuhan dan manusia saat masih di alam ruh. Ruh manusia yang berasal dari ruh ilahi ini memiliki kekuatan arta daya kebijaksanaan, batin, dan welas asih yang kemudian berada di rahim seorang pada bait sebelas diungkapkan Sapa weruh tembang tepus kaki/sasat weruh reke arta daya/tunggal pancer ing uripe/sapa weruh ing panuju/sasat sugih pagere wesi/rineksa wong sajagad/kang angidung iku/lamun dipunapalena/kidung iku den tutug padha sawengi/adoh panggawe ala// Siapa yang tahu bunga tepus/tentu tahu yang dimaksud dengan arta daya/yang menyatu dengan kehidupannya/siapa yang tahu tujuan hidup/berarti kaya dan dipagari besi/dijaga orang sejagat/yang melantunkan kidung itu/bila dibaca dilafalkan dalam semalam/jauh dari perbuatan buruk. Bait sebelas berisi ajaran kepada manusia untuk memahami diri dan tujuan hidupnya. Kekuatan arta daya yang dimiliki manusia mendorong tepo seliro toleransi. Manusia yang tahu tujuan perjalanan hidupnya akan dilindungi Tuhan seperti halnya rumah yang berpagar besi.“Di dalam kidung ini disebutkan keutamaan, jika manusia mengenali jati diri akan mencapai keinginan seperti disayang oleh Tuhan, digambarka dengan kehidupan seperti rumah yang berpagar besi. Pada zaman itu rumah berpagar besi adalah rumah keturunan bangsawan,” papar Ki mencermati manusia terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Tubuh yan meninggal akan hancur. Adapun jiwa akan kembali kepada Sang Pencipta. "Di dalam Al-Qur'an disebutkan manusia tercipta dari saripati tanah. Ketika kita makan minum dari hasil bumi kita paham maknanya. Air itu akan menjadi komposisi sel telur menyatu dengan proses perkembangan bayi di dalam rahim. Ini menjadi kata kunci dalam sangkan paran dumadi. Maka itu dapat menggambarkan asal usul dan tujuan hidup manusia yaitu Tuhan," dapat kembali kepada Tuhan sebagaimana fitrahnya, manusia harus mengendalikan napsu dengan menempa diri seperti berpuasa. Lelaku ini dijalankan untuk menempa ruhani, agar napsu badani tidak dominan. Suluk Kawedar Sunan Kalijaga terdiri dari 46 bait. Suluk ini dinyanyikan dengan tembang atau nada Dandanggula, salah satu jenis tembang macapat dalam sastra Suluk Sunan Kalijaga menjadi salah satu agenda Gema Ramadhan yang diadakan oleh Sanggar Suluk Nusantara. Kegiatan ini diawali Sabtu 19/5 dengan materi Penghayatan Surat Al Fatihah, Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas dengan pemateri Ki Abdulazis Basyarudin. Berikutnya Pengantar Umum Suluk Kidung Kawedar oleh Ki Bambang Wiwoho, Kamis 24/5. Pada pekan depan Kamis 31/5 diagendakan materi Jagat Kecil Jagat Besar oleh Ki Mustaqim Abdul Manan, Ajaran Hakikat Kepemimpinan dari Tembang Gundul-gundul Pacul oleh Ki Ageng Lanang M Jasin, Sabtu 2/6. Sebagai penghujung kegiatan, Kamis 7/6 dihadirkan Keutamaan Ayat Qursi dan Shalat Daim dengan pemapar Ki Abdul Azisi Basyaudin. Pada setiap pertemuan peserta juga diajak nembang menyanyikan suluk-suluk yang diketahui salah satu media yang efektif mengenalkan Islam adalah dengan pendekatan budaya dan seni. Hal itu seperti diakukan oleh Walisongo. Pada harlah NU ke-92 bulan April lalu juga digelar wayang kulit dengan lakon Jamus Kalimasada. Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan NU menekankan penyatuan budaya dengan Islam, dan tidak memisah-misahkannya. Budaya yang baik yang dapat menunjang ajaran Islam, harus dipertahankan, bahkan dikembangkan. Kendi Setiawan
– Sangkan paraning dumadi’ dipercaya sebagai falsafah kehidupan dari nenek moyang suku Jawa. Falsafah tersebut dituturkan oleh nenek moyang dengan cara lisan, tulisan lewat serat-serat, dan juga lewat pentas pewayangan.Sangkan paraning dumadi’ adalah sebuah filosofi untuk memahami manusia, memahami perjalanan sejati yang harus ditempuh oleh manusia di dunia ini. Tetapi sangat disayangkan beberapa kalangan mengatakan jika falsafah tersebut sangat jauh dari nilai beberapa kasus, sangakan paraning dumadi’ dipahami sebagai ajaran kepercayaan Jawa, dan bukan bagian dari Islam. Padahal jika merujuk kepada masa nabi, ada beberapa filosofi budaya Barat yang masih Nabi tersebut disebut sebagai sinkretisme Islam, artinya adalah Islam bisa bersinggungan dengan nilai budaya dan adat di tempat agama Islam berkembang. Hal ini sebenarnya bisa juga dipakai dalam kasus ajaran sangkan paraning dumadi’, bisa berpadu dengan Sangkan Paraning DumadiFilosofi Jawa ini sudah lama digunakan oleh nenek moyang sebagai bagian dari pengajaran agar bisa menjadi manusia yang sejati. Kemudian ketika Walisongo menyebarkan agama Islam, mereka melakukan dakwah dengan sangat arif dan Jawa yang tidak bertentangan dengan Islam masih tetap ada dan bahkan dipakai oleh para Walisongo sebagai media berdakwah. Seperti wayang, dan budaya lainnya, termasuk juga adalah ajaran sangkan paraning Kalijaga adalah salah satu dewan Walisongo yang menggunakan ajaran filosofi tersebut untuk mengajarakan perkara sufi pada murid-muridnya. Sunan Kalijaga juga yang kemudian memberikan makna sangkan paraning dumadi’ sehingga bisa bernafaskan nilai-nilai era selanjutnya, ada Ronggowarsito, pujangga Jawa yang juga menggunakan ajaran sangkan paraning dumadi’ sebagai medianya dalam berdakwah. Lewat serat Gatoloco, Ronggowarsito mengurai makna dari ajaran sangkan paraning dumadi’.Istilah sangkan’ berasal dari Bahasa Jawa berarti asal, sedangkan paraning’ berarti tujuan, dan dumadi’ berarti menjadi. Jadi, sangkan paraning dumadi’ adalah ajaran yang memberikan pemahan tentang asal, tujuan dan apa fungsi dari dirinya manusia.Sangkan Paraning Dumadi dalam Cerita PewayanganDi dalam serat Gatholoco, Ronggowarsito menjelaskan jika asal dari manusia adalah penyatuan antara lingga simbol kelamin laki-laki dan yoni symbol kelamin perempuan. Penyatuan antara keduanya kemudian akan menghasilkan jabang bayi. Jabang bayi tadi kemudian harus mencari tujuan, dan kenapa dia ada di dunia menggambarkan proses pencarian tujuan dan alasan adanya didunia ini dengan karakter Gatholoco. Karakter tersebut digambarkan sebagai karakter antagonis karena sering melakukan kritik pada para tokoh perjalanan tersebut sebenarnya adalah proses pencarian tujuan dan makna hidup seseorang. Kemudian Sunan Kalijaga melukiskan ajaran sangkan paraning dumadi’ dengan cerita pewayangan dengan judul Dewa cerita tersebut Sunan Kalijaga menggambarkan Dewa Ruci adalah Tuhan, tetapi ketika dimaknai lebih dalam, sosok Dewa Ruci adalah manusia itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena menurut ajaran para sufi, manusia itu berasal dari Tuhan, dan kemudian ketika sudah menemukan rasa kemanusiaannya maka dia sebenarnya telah kembali kepada dan ajaran sangkan paraning dumadiBeberapa kalangan masih beranggapan jika ajaran Jawa ini adalah sesat, dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Alasan mereka adalah bahwa konsep penyatuan antara Tuhan dan manusia itu tidak akan pernah jika mau melihat literatur Islam, banyak tokoh-tokoh sufi yang membicarakan hal tersebut. Lewat ajaran sangkan paraning dumadi’, Sunan Kalijaga dan Ronggowarsito ingin mengajarkan amalan tasawuf tentang bagaimana caranya menjadi manusia yang orang sudah paham tentang asal-usulnya, tentang tujuannya hidup di dunia, maka mereka akan menjadi manusia yang sejati. Ketika sudah menjadi manusia yang sejati, ini berarti sudah memahami hakikat manusia hidup didunia dalam Islam ada istilah kembalinya manusia pada Tuhan, yakni “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.” Arti dari kalimat tersebut adalah “sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali”.Beberapa kalangan ulama sufi mengatakan jika kalimat tersebut adalah bagian dari dasar bahwa manusia yang sudah mengenal asal-usulnya bagian dari Tuhan. Maka dia akan paham tujuan hidupnya, adalah kembali pada tuhan sebagai Kalijaga dan Ronggowarsito ingin mengajarkan tentang perjalanan hidup manusia sehingga mereka mengenal dirinya sendiri, yakni menjadi manusia yang sejati. Ketika sudah mengenal kesejatian diri, maka manusia bisa lebih dekat dengan Tuhan.Sangkan paraning dumadi’ yang diajarkan oleh sunan Kalijaga dan Ronggowarsito sebenarnya adalah konsep mengenal jati diri manusia, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan nilai Islam sehingga bisa memberi pelajaran bagi kita bahwa budaya nenek moyang dan ajaran islam tidaklah bertentangan. Semuanya terhubung asalkan kita memahami makna dibalik ajaran tersebut.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sangkan Paraning Dumadi, merupakan filosofi atau ajaran dalam ilmu Kejawen kepercayaan tradisional Jawa tentang bagaimana cara manusia menyikapi bahasa Jawa kuno, sangkan berarti asal muasal, paran adalah tujuan, dan dumadi artinya menjadi, yang menjadikan atau pencipta. Dengan begitu bahwa yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah pengetahuan tentang "Dari mana manusia berasal dan akan kemana ia akan kembali."Keberadaan manusia dan alam semesta merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi, yaitu Dzat Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa. Kelak pada akhirnya seluruh alam semesta akan kembali kepada-Nya. Sangkan Paraning Dumadi dalam filosofi Kejawen mengajarkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam menjalani kehidupan ini kita harus mendekati nilai-nilai luhur ketuhanan. Nilai-nilai luhur ketuhanan antara lain adalah jujur, adil, tanggung-jawab, peduli, sederhana, ramah, disiplin dan komitmen. Karena itu, ada sebagian orang yang mengidentikkan pengetahuan Sangkan Paraning Dumadi dengan filosofi 'Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojii'un. Yang artinya "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali." Bacaan tersebut biasa diucapka oleh umat Islam apabila mendengar kabar duka cita kematian atau musibah. Dalam al-Quran kalimat tersebut terdapat pada surat Al-Baqarah 155-157, "Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."Filosofi Sangkan Paraning DumadiTubuh manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmaniah berupa badan tubuh dan ruhaniah sebagai isinya. a. Jasmani sebagai materi benda diciptakan dari unsur alam, yaitu tanah, air, udara dan api panas. Karena asalnya dari bahan sari pati alam, maka kelak jasmani akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang udara kembali kepada udara, yang api kembali kepada api, dan yang air akan menyatu kembali kepada Ruh yang didalamnya terkandung Jiwa, merupakan sesuatu yang tidak berwujud materi, terdiri dari tiga unsur ruhaniah yaitu akal, nafsu dan hati/perasaan. Dari unsur2 itulah diri manusia bisa melihat, mendengar, sedih, gembira, marah, benci, cinta, iba, kasih sayang, berfikir dan kitab suci Al-Qur'an, Allah berfirman "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh ciptaan Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu". As-Sajdah, 32 9. 1 2 3 Lihat Filsafat Selengkapnya
Kawruhana sejatining urip/ urip ana jroning alam donya/ bebasane mampir ngombe/ umpama manuk mabur/ lunga saka kurungan neki/ pundi pencokan benjang/ awja kongsi kaleru/ umpama lunga sesanja/ njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/ mulih mula sejatinya hidup/ Hidup di dalam alam dunia/ Ibarat perumpamaan mampir minum/ Ibarat burung terbang/ Pergi dari kurungannya/ Dimana hinggapnya besok/ Jangan sampai keliru/ Umpama orang pergi bertandang/ Saling bertandang, yang pasti bakal pulang/ Pulang ke asal di atas merupakan falsafah Jawa favorit dunia ini diumpamakan seperti bersinggah ke suatu tempat atau mampir bertamu dan minum bersama. Artinya dunia ini selalu berubah dan tidak kekal. Seindah atau seburuk apapun selalu hanya sementara. Seseorang tidak bisa berdiam lama-lama dalam suatu persinggahan. Dalam bahasa Jawa istilahnya, "Urip iku mung mampir ngombe", hidup itu cuman numpang Paraning Dumadi menjelaskan bahwa kita manusia pada hakikatnya akan berpulang ke rumah sejati. Peristiwa berpulangnya manusia ke rumah sejati inilah yang menjadi catatan saya pagi artinya lahir atau menjadi ada. Sebelum lahir, sebelum bernama, atau sebelum ada seperti ini, itulah sang asal. Sangkan paraning dumadi umumnya dipahami sebagai asal dan tujuan hidup. Ada yang Menyebutnya Tuhan sesuai dengan pemahaman atau agama pada umumnya. Sangkan paraning dumadi adalah kembali pada diri sejati atau rumah sejati. Ini tingkat kedalaman bathin yang murni, yang bebas dari konflik dan prasangka. Sang asal sebelum jagad gumelar, sebelum bumi dan seisinya kita kenali sebagaimana sekarang pada umumnya. Jagad gumelar dalam hal ini adalah pikiran duniawi yang memiliki ciri dualitas. Karena ada dualitas maka ada positif dan negatif, ada hitam dan putih. Inilah dunia jagad yang kita kenali. Dan selanjutnya positif negatif itu menjadi reaksi suka dan tidak suka. Inilah kecenderungan duniawi yang dirasakan tentu beda dengan Sang Pencipta. Dalam bahasa Jawa, Sang Pencipta atau Tuhan atau Allah disebut Gusti. Gusti itu bagusing ati. Hubungan antara manusia dan Gustinya itu bersifat vertikal. Itulah makna dari Spiritualitas menurut saya seperti mimpi bertemu dengan almarhumah Eyang saya. Sepertinya ini merupakan pesan bawah sadar. Karena sudah jelas bukan di alam sadar jelas seperti apa isi pesannya dari sang 'Messenger', yang jelas saya berusaha menangkap dan mempelajari perihal berpulang ke rumah abadi dan esensi hidup manusia di saya yang kurang reresik sehingga subliminal message yang saya terima kurang jelas. Namun satu hal yang pasti, pesan muncul ketika saya telah berhasil melampaui fase penting dalam hidup. Seperti peristiwa semalam terkait rencana anggap ini adalah sebuah approval. Namun ada hal lain diluar approval ini yang tidak bisa saya jelaskan. Seperti ada beban lain yang disusupkan melalui mimpi. Ini soal kebersamaan. Ini soal ajaran cinta kasih tanpa syarat. Soal bloodline.
Tidak banyak orang yang tahu, kalau Sunan Kalijaga sesungguhnya tokoh sufi atau tasawuf—di samping sebagai juru dakwah penyiar Islam—yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Peran dan kiprahnya oleh Widji Saksono 1996 dikatakan sebagai salah seorang dari sunan-sunan lain dalam lingkaran Wali Sanga yang mempunyai andil besar dalam “mengislamkan tanah Jawa”. Sunan Kalijaga merupakan tokoh fenomenal, yang oleh masyarakat luas diakui sebagai Guru ing Tanah Jawi. Jasanya yang luar biasa besar adalah ketika ia mampu menyampaikan ajaran agama Islam dengan cara wicaksana, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan sosial. Membaca keseluruhan tentang sosok Kanjeng Sultan secara personal, terasa sangat unik dan mengagumkan. Dalam cerita-cerita jenaka, misalnya dikisahkan, Syaikh Siti Jenar—wali yang paling terkenal setelah Sunan Kalijaga—demikian keramat dan sakti, sehingga delapan wali yang lain kecuali Sunan Kalijaga dapat diatasai dan dikalahkannya. Disebutkan bahwa Syaikh Siti Jenar itu bisa masuk bumi waktu dikejar-kejar oleh Sunan Kalijaga untuk menangkapnya. Di bawah tanah yang gelap gulita serta sempit-sesak itu lantaran keramatnya Syaikh Siti Jenar menciptakannya menjadi terang benderang dan luas-lapang seluas alam semesta lengkap dengan langitnya yang cerah. Untuk menandingi ini, maka Sunan Kalijaga menciptakan mendung, hujan dan topan badai yang amat dahsyat, sehingga alam di bawah bumi laksana bongkah, kembali gelap gulita dan sesak sempit seperti sediakala, bahkan lebih sempit dari yang semestinya. Itu terjadi lantaran kesaktian Sunan Kalijaga Saksono, 1996. Meski Syaikh Siti Jenar dan Sultan Kalijaga sama-sama mengajarkan makrifat, namun caranya berbeda. Menurut Achmad Chodjim 2004, Syaikh Siti Jenar lebih menitikberatkan pada olah batin untuk pencapaian “Diri Sejati”, sedangkan Sunan Kalijaga lebih memfokukan pengalaman praktis kehidupan sehari-hari orang Jawa dalam memahami asal-usul dan tujuan hidup sangkan paraning dumadi. Sangkan Paraning Dumadi Pendekatan Raden Syahid—nama kecil Sunan Kalijaga, atau disebut pula Syaikh Melaya karena dia adalah putera Tumenggung Melayakusuma di Jepara—dalam menjelaskan wejangan dengan berdasarkan kepada tiga hal, yaitu momong, momor, dan momot. Purwadi 2005 menjelaskan, bahwa momong berarti bersedia untuk mengemong, mengasuh, membimbing, dan mengarahkan. Sunan Kalijaga memperlakukan pihak yang lebih lemah seperti sikap orang tua yang sedang mengasuh anak, seperti Nyai dengan santrinya, seperti guru dan muridnya. Momor berarti bersedia untuk bergaul, bercampur, berkawan, dan bersahabat. Hal ini dimaksudkan agar pihak lain bisa merasa akrab. Sunan Kalijaga dihormati oleh segenap masyarakat Jawa karena kebijaksanaanya dalam melakukan pergaulan sehari-hari. Momot berarti kesediaan untuk menampung aspirasi dan inspirasi dari berbagai kalangan yang beraneka ragam. Sunan Kalijaga sangat berhasil menempatkan posisi keagamaan, kekuasaan, dan kebudayaan. Secara lebih spesifik, ajaran tasawuf Sunan Kalijaga dapat ditemukan dalam berbagai sumber, antara lain dari babat Serat dan Suluk. Ajaran tasawufnya menyangkut beberapa aspek pokok ajaran yaitu mengenai konsep pancamaya, ilmu hakikat, sangkan paraning dumadi, roh Ilafi ruh Idhafi, dan ajaran tentang fana, baqa, dan nubuat. Ajaran sangkan paraning dumadi seringkali diinternalisasi oleh para wali dan penganut mistik kejawen. Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan serupa yang tersimpul dalam Tembang Dhandhanggula sebagai berikut “Terjemahan hidup di dunia ini tidak lama/ seperti jika kamu pergi ke pasar/ tidak akan ke pasar terus/ pastilah akan kembali juga/ ke rumah asalnya/ maka jangan sampai keliru/ maka ketahuilah/ ilmu sangkan paran/ agar jangan sampai kesasar”. Suwardi Endraswara 2006 menafsirkan makna tersirat dari ajaran Sunan Kalijaga di atas. Bahwa menurutnya, pesan mistik tembang tersebut menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya tadi, karena itu jangan sampai ragu-ragu terhadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan. Pesan ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dunia sekadar mampir ngombe singgah untuk minum, karena suatu ketika akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah tumpuan sangkan paraning dumadi. Ali Usman, pengurus Lakpesdam PWNU DIY
sangkan paraning dumadi sunan kalijaga